Gamelan Degung
Gamelan Degung
( sumber : www.google.co.id )
Arti Degung
sebenarnya hampir sama dengan Gangsa di Jawa Tengah, Gong di Bali atau Goong di
Banten yaitu Gamelan, Gamelan merupakan sekelompok waditra dengan cara
membunyikan alatnya kebanyakan dipukul. Pada mulanya Degung berupa nama waditra berbentuk 6 buah
gong kecil, biasanya digantungkan pada “kakanco” atau rancak/ancak. Waditra ini
biasa disebut pula “bende renteng” atau “jenglong gayor”. Perkembangan
menunjukan bahwa akhirnya nama ini digunakan untuk menyebut seperangkat alat yang
disebut Gamelan Degung dimana pada awalnya gamelan ini berlaras Degung namun
kemudian ditambah pula dengan nada sisipan sehingga menjadi laras yang lain
(bisa Laras Madenda/Nyorog ataupun laras Mandalungan/Kobongan/Mataraman)
Ada anggapan lain sementara orang bahwa
kata Degung berasal dari kata ratu-agung atau tumenggung, seperti dimaklumi
bahwa Gamelan Degung sangat digemari oleh para pejabat pada waktu itu, misalnya
bupati Bandung R.A.A. Wiranatakusuma adalah salah seorang pejabat yang sangat menggemari
Degung, bahkan beliaulah yang sempat mendokementasikan beberapa lagu Degung
kedalam bentuk rekaman suara. Ada pula yang menyebutkan Degung berasal dari
kata “Deg ngadeg ka nu Agung” yang mengandung pengertian kita harus senantiasa
menghadap (beribadah) kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam bahasa Sunda banyak
terdapat kata-kata yang berakhiran gung yang artinya menunjukan
tempat/kedudukan yang tinggi dan terhormat misalnya : Panggung, Agung,
Tumenggung, dsbnya. Sehingga Degung memberikan gambaran kepada orang Sunda
sebagai sesuatu yang agung dan terhormat yang digemari oleh Pangagung.
Mula mula
Degung merupakan karawitan gending, penambahan waditrapun berkembang dari jaman
ke jaman. Pada tahun 1958 barulah dalam bentuk pergelarannya degung menjadi bentuk
sekar gending, dimana lagu-lagu Ageung diberi rumpaka, melodi lagu dan bonang
kadangkala sejajar kecuali untuk nada-nada yang tinggi dan rendah apabila tidak
tercapai oleh Sekar. Banyaknya kreasi-kreasi dalam sekar, tari, wayang
menjadikan degung seperti sekarang ini.

0 komentar:
Posting Komentar